![]() |
| Kepala Desa Pahangan bersama warga membersihkan bendungan sumber air bersih yang mengering akibat kemarau panjang yang telah memasuki bulan keempat, Selasa (13/10/2026). |
Kemarau sudah memasuki bulan keempat pada 2026. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang tidak terdampak oleh kemarau panjang ini.
Sungai yang dibendung dan menjadi sumber air bersih Masyarakat Adat (MA) Desa Pahangan, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, telah mengalami kekeringan selama dua bulan.
Saat curah hujan normal, bendungan sungai ini menyuplai air bersih hingga ke setiap rumah warga Desa Pahangan.
Kepala Desa Pahangan, Juki, mengatakan bahwa warganya harus mencari sumber air bersih lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. “Warga mengangkut air menggunakan wadah dalam jumlah terbatas karena jarak sumber air cukup jauh dari rumah penduduk,” ujarnya.
Rumah-rumah masyarakat di desa ini berada di tepian Sungai Pahangan, seperti halnya kampung-kampung lain di pedalaman Kalimantan. Namun, anak Sungai Pahangan yang selama ini menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari kini mengering.
Masyarakat Adat setempat masih mengambil air langsung dari Sungai Pahangan untuk mandi dan mencuci. Namun, mereka enggan mengonsumsi air sungai tersebut karena kemarau yang berlangsung terlalu lama menimbulkan kekhawatiran akan kualitas air yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Di kota maupun di desa, dampak kemarau sama-sama dirasakan, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Di kota, masyarakat menghadapi kabut asap dan krisis air bersih. Air memang tersedia, tetapi harganya mahal. Di tempat tertentu, harga air mencapai Rp20.000 per galon berisi 16 liter.
Sementara itu, di desa, masyarakat menghadapi krisis air bersih dan mahalnya harga sembako. Akses transportasi menuju Desa Pahangan pun hanya mengandalkan jalur sungai. Dalam kondisi aliran sungai normal, perjalanan dari ibu kota kecamatan menuju desa ini memakan waktu lima hingga enam jam. Namun, saat kemarau, waktu tempuh bisa mencapai 45 jam. (tlaw)

0 Comments